muslimah-berhijab-dipaksa-gunakan-topi-natal-sinterklas

Hampir-hampir kefakiran (kemiskinan) itu menjadi kekafiran

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam al-Baihaqi dalam kitab “Syu’abul Iman” (no. 6612), Abu Nu’aim Al-Ashbahani dalam “Hilyatul auliyaa’” (3/53 dan 109), Al-Qudha-‘i dalam “Musnadusy Syihab” (no. 586), Al-‘Uqaili dalam “Adh-Dhu’afaa’” (no. 1979) dan Ibnu ‘Adi dalam “Al-Kamil” (7/236), semuanya dari berbagai jalur, dari Yazid bin Aban ar-Raqa-syi, dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.
Hadist diatas sebagian ada yang menyatakan lemah ad aula yang menyebutnya palsu disebabkan oleh salah satu perowi dinukil merupakan seorang pemalsu hadist.

Terlepas dari shohih tidaknya hadis tersebut, diera globalisasi saat ini banyak terjadi “penggadaian aqidah” demi sedikit dollar. Tak heran jelang Hari Natal seperti ini berlomba-lomba banyak dari pengusaha non muslim yang tidak bertanggung jawab memaksa para karyawan muslim mereka memakai kostum ala keyakinan mereka. Sementara disisi lain ada tujuh juta lebih umat muslim lainnya mempertaruhkan nyawa demi menjaga aqidah mereka. Sungguh ironis.

Padahal sangat jelas dalam sebuah hadist ;

Abu Umamah meriwayatan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril as.) mewahyukan kepadaku, bahwa seorang manusia tak akan mati kecuali setelah ajalnya sempurna dan rezekinya terpenuhi, maka bertakwalah kepada Allah dan baguskanlah dalam mencari rezeki. Dan janganlah menyebabkan tertahannya rezeki karena kemaksiatan yang kalian kerjakan. Karena seseorang tidak akan memperoleh rezeki kecuali dengan ketaatan kepadaNya.”

 

Dari hadist diatas terdapat tiga point yang dapat kita ambil,

PERTAMA

Seseorang tak akan mati sebelum seluruh jatah rezekinya habis.

 

  • Dari hadits di atas kita bisa memahami bahwa jatah hidup seseorang akan berakhir jika ajalnya telah tiba dan rezeki yang sudah ditetapkan baginya juga habis, telah diterima semuanya.
  • Apa yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk diterimanya, akan diterima seluruhnya, dan kalau sudah diterima seluruhnya, baru dia”diperbolehkan” untuk mati. Jadi tak ada istilah “umur berlanjut rezeki terputus”.
  • Jadi tak perlu khawatir akan rezeki, karena semua akan kita terima sampai tiba ajal menjemput. Jadi kematian sebenarnya tidak memutus rezeki, tetapi memang rezekinya sudah habis dan sudah diberikan semuanya, sehingga tinggal menghadap Allah untuk mempertanggung jawabkan rezeki yang telah diterimanya tersebut. Ada 2 poin tentang rezeki (harta) yang akan ditanyakan pada kita di akhirat nanti, sumbernya dan pemanfaatannya. Darimana harta itu diperoleh dan kemana dibelanjakan?

KEDUA

Sempurnakan ikhtiar

 

  • Allah sudah menetapkan rezeki seorang hamba dan berjanji akan menurunkan semua rezeki yang sudah ditetapkan itu. Rezeki seseorang tak mungkin nyasar, seperti rezeki anda tak mungkin diambil oleh saya, demikian juga rezeki saya pasti akan saya terima dan tak mungkin lari ke tangan anda, karena rezeki tahu pasti di mana letak keberadaan kita.
  • Kalau rezeki kita sudah ditentukan, bolehkah bersantai dan berleha-leha sambil menunggu rezeki datang? Tentu tidak ! Dari hadits di atas kita diperintahkan untuk mencari rezeki dengan membaguskannya. Jangan asal comot, yang penting rezekinya dapat sehingga sudah tidak perduli pada caranya. Halal dan haram sudah tak penting lagi. Orientasinya hanya hasil, kuantitas, bukan kualitas rezeki yang diperolehnya. (baca : efek rezeki haram). Yang mana yang dimaksud rezeki yang berkualitas? Yaitu rezeki yang berkah. Bagaimana bentuk rezeki yang berkah itu.
  • Jadi kewajiban seorang hamba hanyalah bertakwa dan menyempurnakan ikhtiarnya. Rezeki yang menjadi milik kita bagaimana pun pasti akan diterima karena sudah ditentukan dan dijanjikan oleh Allah, tapi apa manfaatnya bagi kita jika kita tidak bertakwa dan menyempurnakan ikhtiar? Karena bertakwa dan menyempurnakan ikhtiar inilah yang akan menentukan nilai kita, menentukan nilai rezeki kita di akhirat nanti.

 

  • Kita diberi rezeki banyak, tapi rezeki itu dimanfaatkan untuk bermaksiat di jalan Allah, maka rezeki kita meski banyak dari segi jumlah tapi kualitas (nilainya) tidak ada. Sementara nilai inilah yang kita kejar, berharap bisa menjadi pemberat amalan kita di hari dimana hanya amal yang akan menyelamatkan kita dari neraka.

 

KETIGA

Rezeki tertahan karena maksiat.

 

  • Tertahannya rezeki dapat terjadi karena kemaksiatan yang dilakukan oleh si hamba, dan lancarnya rezeki terjadi karena kita melakukan ketaatan dan amal saleh.
  • Jadi seret tidaknya, atau lancar tidaknya rezeki, antara lain berhubungan dengan “perilaku” seseorang. Bisa saja seseorang rezeki miliknya belum dapat dinikmati karena dirinya tidak memantaskan diri untuk menerima rezeki tersebut. Rezekinya tertahan karena hidupnya dihiasi maksiat. (baca : 10 dosa besar penghalang rezeki)
  • Belum lagi jika perilakunya mencari rezeki lewat jalan yang haram. Konsekuensi rezeki haram pasti mengikutinya. Kemaksiatan merupakan sesuatu yang sangat besar spektrumnya. Pada saat kita yakin bahwa obat dan dokterlah yang menyembuhkan kita, secara tidak sadar kita telah bermaksiat pada Allah SWT karena telah menduakanNya. Pada saat kita lebih percaya pada gaji tetap dan pekerjaan tetap sebagai sumber rezeki daripada jaminan Allah SWT sebagai satu-satunya pemberi rezeki, kita sedang bermaksiat padaNya. Hal seperti ini mungkin tidak kita sadari atau sduah dianggap “biasa”. Padahal mengecilkan kemaksiatan-kemaksiatan kecil jadi pemberat dosa kita di akhirat nanti. (baca : Ini dia 3 alasan mengapa rezeki kita susah)
  • Jika kemaksiatan menghalangi rezeki, maka hanya ketaatan kepada Allah SWT yang bisa melancarkannya kembali. Apa yang dimaksud taat? Menaati apa yang diperintahkanNya dan menjauhi apa yang dilarangNya. Dan itu harus dilakukan bersamaan. Jangan sampai kita hanya menaati apa yang diperintahkan Allah, tapi kita tetap mengerjakan apa yang dilarangNya. Atau kita hanya mengerjakan seperuh saja, separuh yang lainnya kita langgar. (baca : 3 hal terdahsyat penarik rezeki).
  • Tapi ada ahli maksiat tapi rezekinya lancar-lancar saja? Itu istidraj.

Wallahu alam bihowab…

 

So, jangan pertaruhkan aqidah demi pundi rupiah yang sebenarnya sudah dijatah oleh Allah. Sama-sama sudah ada takarannya sudah jatahnya jangan jadikan haram karna salah caranya.

Tidak ada tujuan lain dari artikel ini selain untuk mengingatkan saudara sesama muslim. kami menghargai agama masing-masing karna “Bagiku agamaku, Bagimu agamamu”.

 

Inspirated by Lancar Rejeki

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s