“Ibrahim berkhitan setelah mencapai usia 80 tahun, dan beliau berkhitan dengan Al Qodum.” (HR. Bukhari, inilah lafadz yang terdapat dalam Shahih Bukhari yang berbeda dalam kitab Fiqh Sunnah).

 

Kewajiban berkhitan bagi pria membawa keponakan saya yang berusia 11 tahun memberaanikan diri untuk di khintan. Menjadi bagian dari khitan massal ternyata memiliki pengalaman tersendiri. Pun menjadi pengalaman pertama bagi saya menemani prosedur tersebut, karena status saya yang belum menikah sudah pasti belum pernah punya anak juga. 😀

 

Khitan massal yang di selenggarakan oleh badan amal, infaq, zakat dan sedekah tersebut berkolaborasi dengan salah satu perusahaan milik negara berlangsung lancar. Singkat cerita keponakan saya mendapat nomor urut ke 42 dari 57 peserta.

 

Ada perasaan nervous pada saat pertama kali tiba di lokasi khitan. Perlahan dapat di netralisir dengan berbagai acara yang cukup menghibur hingga tiba sang pemandu acara menyebut nomor urut 35. Mulai kembali nervous dan saya mencoba menetralisir suasana dengan memintanya maju ke panggung. 10 menit kemudian nomor urut 41 dan 42 mendapat giliran. Suasana tetap tenang hingga di pintu registrasi kedua. Dari delapan bed yang tersedia ada satu bed yang kosong. Seorang dokter pria dan asistantnya bersiap. Seorang perempuan selaku perawat setengah baya mencoba menghibur dan menenangkang.

 

“Pinter ini, kelas berapa? ” tanya perawat perempuan setengah baya

“Kelas 5 SD.” Jawab Destiny

“Okey lepas ya sarung dan celananya.” Pinta dokter dan perawat bersamaan

*Destiny malu, namun akhirnya tetap melepas sarung dan celananya kemudian berbaring.

 

Kecemasan mulai terlihat di mata destiny. Beberapa kali dia berusaha menengok dokter yang sedang memulai prosedur. Suntikan pertama ia merengek begitupun suntikan kedua. Proses selanjutnya adalah pengguntingan (saya tidak tahu istilahnya dalam ilmu kedokteran). Kecemasannya berubah menjadi kepanikan yang semakin hebat ketika beberapa peserta sekitar berteriak dan menangis. Bahkan seorang ayah peserta ada yang tidak sadarkan diri. Saya putus asa karna merasa tidak kuat mental untuk menemani keponakan saya. Tapi setelah melihat destiny yang begitu panic mental saya jadi sangat kuat.

Kedua tangan destiny menggenggam erat tangan saya. Sangat kuat. Seorang dokter dan dua perawat melakukan prosedur dengan cepat. Destiny terus mengerang dan saya terus mengajaknya berdzikir. Alhamdulillah saya bisa melihat prosedur ini sehingga menjadikan saya kembali mengingat bagaimana perjuangan ibu melahirkan saya. Terikan destiny dan cara dia menggenggam erat tangan saya membuat hati saya luluh. Ibu juga pasti merasakan seperti ini saat melahirkan saya. Destiny masih terus mengerang dan kembali saya teringat ini adalah pelajaran berharga untuk saya ketika kelak putra saya melakukan hal yang sama.

 

Ada beberapa yang menarik dalam proses tersebut. 3 kali destiny meminta agar dokter istirahat melakukan tindakan. Dan hal konyol ini sontak membuat abi dan uminya ketawa ketika mendengarnya dari saya. Destiny tidak ditemani kedua orang tuanya karna sang ibu masih menjalani perawatan di rumah sakit.

“Aku trauma mbak, tidak mau khitan lagi. ” kata destiny dalam taksi saat perjalanan pulang

 

Wajibnya khitan bagi laki-laki Dalil yang menunjukkan tentang wajibnya khitan bagi laki-laki adalah :

 

  1. Hal ini merupakan ajaran dari Nabi terdahulu yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan kita diperintahkan untuk mengikutinya.

 

Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,“Ibrahim -Al Kholil- berkhitan setelah mencapai usia 80 tahun, dan beliau berkhitan dengan kampak.” (HR. Bukhari)

Allah Ta’ala berfirman

 

“Kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad): Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (An Nahl : 123)

 

  1. Nabi memerintah laki-laki yang baru masuk Islam dengan sabdanya “Hilangkanlah rambut kekafiran yang ada padamu dan berkhitanlah.” (HR. Abu Daud dan Baihaqi, dan dihasankan oleh Al Albani). Hal ini menunjukkan bahwa khitan adalah wajib.

 

  1. Khitan merupakan pembeda antara kaum muslim dan Nashrani. Sampai-sampai tatkala di medan pertempuran umat Islam mengenal orang-orang muslim yang terbunuh dengan khitan. Kaum muslimin, bangsa Arab sebelum Islam, dan kaum Yahudi dikhitan, sedangkan kaum nashrani tidak demikian. Karena khitan sebagai pembeda, maka perkara ini adalah wajib.

 

  1. Menghilangkan sesuatu dari tubuh tidaklah diperbolehkan. Dan baru diperbolehkan tatkala perkara itu adalah wajib. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, I /99 dan Asy Syarhul Mumthi’, I/110)

 

 

Semoga bermanfaat…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s