dsc09490

“Bagiku agamaku dan bagimu agamamu.”

Ayat diatas cukup selaras dengan akhlak seorang muslim kepada non muslim. Lalu apakah ayat al qur’an diatas berlaku pula bagi sesama muslim? Ada satu pertanyaan besar dalam diri yang sangat sulit dalam menemukan jawaban.

 

Jika hal diatas berlaku untuk sesama muslim apakah itu artinya seorang muslim satu tidak harus mengingatkan seorang muslim lain yang ternyata belum melakukan akhlak dan kewajiban dimana itu merupakan ciri seorang muslim.

 

Pertanyaan yang terus bergejolak. Sempat membaca beberapa artikel tentang “Agama dan Budaya” disana mengatakan bahwa Agama memiliki hubungan erat dengan budaya. Wali songo menggunakan metode budaya untuk pendekatan kepada masyarakat. Kemudian menjadi kebiasaan yang berlangsung hingga berabad lamanya.

 

Dalam hal ini saya ingin kembali membahas tentang hijab, yakni jilbab sebagai perintah dari Allah yang wajib di ikuti oleh seluruh muslimah di muka bumi untuk menjaga kehormatan setiap muslimah.

Memakai jilbab bukanlah salah satu dari sekian banyak budaya Arab. Bukan pula fashion yang sedang menjadi trendsetter. Bukan sebagai penutup aib.

Kewajiban memakai jilbab dengan bahan yang tidak menerawang, tidak membentuk lekuk tubuh, menutup dada adalah satu penghargaan dari Allah untuk perempuan muslim.

Bukan karena mengikuti orang-orang arab.

 

Sering sekali dalam diri memenjara pertanyaan “Kenapa putri atau istri dari beberapa ustadz dan kyai bahkan masih mengenakan hijab dan jilbab yang tidak sesuai perintah Allah, bahkan tanpa sungkan mengumbar rambut lehernya di media yang seluruh dunia bisa melihat. Jelas mereka telah mengaji akan bagian dari aurat mereka. Lalu kenapa masih seperti itu? Bukankah ustadz dan kyai adalah panutan? Kenapa mereka masih mengumbar aurat sementara masing-masing telah mengijak masa baligh? Masih memakai celana yang begitu jelas membentuk bagian pinggang ke kaki. Apakah ini hal yang biasa? Apakah diri ini harus mengingatkan atau mengikuti? Kenapa ilmunya tidak bermanfaat minimal bagi diri sendiri? Bukankah rezeki yang telah menjadi segumpal daging insyaaAllah halal karena telah mengetahui hukum halalan toyyiban.”

 

Dan hingga hari ini belum ada jawaban tentang hal diatas. Setiap proses memiliki waktu namun harus berprogres agar mampu memberi kebaikan disaat yang tepat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s